Translate

Jumat, 14 September 2012

Kiat Menjadi Kepala sekolah yang Disukai


Kiat Menjadi Kepala Sekolah yang Disukai
Oleh Encon Rahman

Dewasa ini pemimpin sekolah memiliki kewenangan yang luas untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan pengendalian pendidikan di sekolah.
Berdasarkan kewenangan itu, pemimpin sekolah memiliki keleluasaan untuk mengatur roda organisasi yang dipimpinnya. Di samping kewenangan, pemimpin sekolah pun memiliki fungsi sebagai educator (pendidik), manajer, administrator, supervisor, leader, inovator, dan motivator (EMASLIM).
Kewenangan dan peran pemimpin sekolah di atas, tidak terlepas dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Adapun standar kepala sekolah/madrasah mencakup lima komponen yaitu kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.
Berdasarkan lima kompetensi kepala sekolah, kita dapat menyimpulkan, setidaknya ada 33 komponen kompetensi pemimpin sekolah yang harus mampu dilaksanakan oleh seorang leadership. Apabila ada pemimpin sekolah yang tidak mampu mengimplementasikan ke-33 kompetensi saat melaksanakan tugas di sekolah, maka dipastikan eksistensi leader itu tidak akan dicintai oleh timnya.
Selanjutnya, agar seorang pemimpin sekolah dapat dicintai, setidaknya yang bersangkutan harus bisa mengaplikasikan pemahaman sebagai berikut.
Pertama, jadikan jabatan pemimpin sekolah sebagai jabatan amanah. Jabatan pemimpin pada hakikatnya, bukan bukti kemuliaan. Juga bukan bukti meningkatnya harkat dan derajat di mata Allah SWT. Jabatan pemimpin hanyalah berbagi tugas dan peran saja. Itulah sebabnya, pada saat kita menjabat pemimpin, tidak usah merasa lebih pintar, cerdas, atau hebat. Pemimpin sekolah yang dicintai  tim adalah pemimpin yang tidak arogan, tawadhu, selalu menampung aspirasi dari tim dalam melaksanakan kewenangan, tidak otoriter, dan tidak hawek (memperkaya diri).
Berdasarkan kaca mata di lapangan, banyak citra pemimpin sekolah yang terpuruk di mata tim, kondisi itu disebabkan karena sifat hawek khususnya dalam manajemen keuangan. Potret buram ini, bukan saja menjadi malapetaka, pada saat melaksanakan kepemimpinan di sekolah, juga menjadi bumerang pada saat ia pensiun.
Pemimpin  yang hawek  tidak akan dihargai. Dicemooh. Dicaci. Bahkan, dalam catatan sejarah, bisa jadi eksistensi yang bersangkutan menjadi catatan terburuk  sepanjang zaman. Naudzubillah. Berdasarkan kenyataan tersebut, tak ada pilihan lain, jika seorang pemimpin yang ingin dicintai timnya berkemaslah memperbaiki diri saat ini juga.
Kedua, menjadi contoh kebaikan. Pemimpin sekolah adalah figur. Karenanya, segala tindak tanduknya sangat berpengaruh terhadap  organisasi yang dipimpinnya. Kebaikan yang dipertontonkan oleh pemimpin selama ia menjabat, akan menjadi kenangan terindah bagi timnya. Selain itu, tim akan meniru pola kepemimpinan  tersebut pada suatu hari nanti.
Ketiga, menjadi jalan kebaikan. Idealnya sebuah jabatan harus menjadi jalan kebaikan sebanyak-banyaknya bagi umat. Demikian  juga dengan jabatan pemimpin sekolah. Manfaatkan jabatan pimpinan sebagai upaya menjadi wasilah kebaikan bagi orang lain.
Banyak di antara pemimpin sekolah, yang tidak mempergunakan momen ini untuk mengeruk pahala sebanyak-banyaknya. Malah sebaliknya, kita pernah mendengar ada pemimpin sekolah yang mempergunakan jabatannya untuk berdusta. Salah satu misalnya, membuat SK untuk guru honorer sekian puluh tahun untuk kepentingan syarat CPNS, padahal kenyataannya tidak demikian.
Keempat, menjadi pelayan yang baik. Pemimpin adalah pelayan. Itulah sebabnya, dalam melaksanakan kewenangan dan fungsi yang bersangkutan harus mampu mengkolaborasikan posisi sebagai manajer dan pelayanan.
Makna pelayan dalam konteks ini, yakni seorang pemimpin jangan jaga imej (jaim), ingin dikultuskan, diagung-agungkan, bahkan dihormati secara berlebihan. Pemimpin yang disukai adalah pemimpin yang memiliki rasa empati, simpati, hormat, ramah dan melaksanakan 5S (senyum, salam, sapa, sopan, santun) terlebih dahulu, sebelum timnya pun melakukan hal yang sama.
Jabatan pemimpin adalah jabatan sementara. Jabatan itu hanyalah topeng. Oleh karena itu, jangan tergiur oleh kemasan topeng. Munculkan jati diri yang sebenarnya melalui akhlak mulia. Inilah kunci sebenarnya agar seorang pemimpin disukai, dicintai, dan dirindukan oleh timnya. Selamat menjadi figur pemimpin sekolah yang profesional.***




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar