Translate

Sabtu, 15 September 2012

Menjalani 2011, Apa yang Harus Kita Lakukan?


 
Menjelang tahun baru Masehi, kita sering menyaksikan hiruk pikuk masyarakat saat menyambut pergantian tahun. Televisi, radio, koran, majalah dan sejenisnya pun berlomba menyajikan budaya pergantian tahun. Masing-masing seakan ingin berpartisipasi mempersembahkan sesuatu yang terbaik pada awal tahun.
Kebiasaan masyarakat menyambut tahun baru Masehi di negeri ini seperti ritual. Di perkotaan, masyarakat kota berbondong-bondong ke luar rumah sekedar ingin menikmati suasana malam menjelang tahun baru. Sebagian dari mereka, berjalan kaki seraya meniup terompet. Menuju mall, alun-alun dan tempat hiburan. Masyarakat bergerombol, tanpa tujuan yang jelas. Sebagian lagi, membawa kendaraan menuju tempat rekreasi hingga dini hari.
Jalan-jalan utama di perkotaan umumnya macet total oleh komunitas yang ingin menyambut tahun baru. Kita menyaksikan, pergantian tahun Masehi ibarat magnet budaya. Maksudnya, perilaku masyarakat menjelang tahun baru Masehi, kerap berbeda dengan tingkah laku mereka dalam keseharian.
Mereka cenderung melampiaskan kegembiraan dengan model yang kadang-kadang melanggar norma dan etika. Dampaknya, tahun baru Masehi menjadi ajang huru hara, tindak kriminal, dan pelampiasan syahwat. Maka, tak heran jika lembaran tahun baru sering dinodai oleh degradasi moral dan tingkah laku yang memprihatinkan berbagai kalangan.
Kondisi serupa terjadi pula di pedesaaan. Bedanya, jika di desa merayakan tahun baru Masehi cenderung lebih sederhana. Umumnya, warga desa melakukan pawai keliling seraya membawa obor diiringi alat musik seadanya yang tetap gaduh sepanjang jalan yang dilewati. Atau, mereka hanya menonton sajian acara televisi di rumah masing-masing. Sebagian besar, mereka lebih banyak menghabiskan waktu tahun baru di tempat tidur, karena diyakini pekerjaan besok pagi diladang lebih menantang.
Potret masyarakat dalam menyambut tahun baru Masehi tidak pernah luntur. Budaya itu dikukuhkan pula oleh gencarnya informasi yang dikemas media elektronik yang menawan. Panggung hiburan, baik lokal maupun nasional kerap digelar diberbagai tempat. Pada malam itu, masyarakat seolah dimanjakan. Dimana-mana hiburan menjamur bak di musim hujan, mulai hiburan gratis hingga beli karcis.
Kenyataan menunjukkan, masyarakat kita rela begadang semalam suntuk sekedar menjadi saksi pergantian tahun Masehi pada pukul 00.00 waktu setempat, seraya berdecak kagum melihat kembang api yang bertaburan menghiasi temaramnya malam, baik di sekitar tempat tinggalnya, maupun via media elektronik di berbagai belahan dunia.
Lupakah kita terhadap tata nilai yang pernah ajarkan Rasulullah dalam menyingkapi pergantian tahun? Senangkah kita berduyun-duyun di tengah kerumunan tanpa dasar yang jelas dalam menikmati hari. Sementara, sisa usia semakin berkurang?
Sisi Budaya yang Hilang
Memperhatikan perilaku masyarakat dalam menghadapi pergantian tahun Masehi, ada sisi budaya yang hilang dari bingkai dasar negeri ini. Bingkai dasar itu adalah mengelola waktu.  Waktu menurut Quraish Shihab memiliki empat makna. Pertama, dahr. Maksudnya, segala sesuatu pernah tiada, dan keberadaannya menjadikan ia terikat oleh waktu. Hal itu sebagaimana tercermin dalam QS. Al-Jatsiyah: 24,”Dan mereka berkata: kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,” dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”
Kedua, ajal. Maksudnya, segala sesuatu ada batas waktu berakhirnya, sehingga tidak ada yang langgeng dan abadi kecuali Allah Swt., sendiri. “Tiap-tiap umat memiliki ajal (waktunya). Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula mendahulukannya.” (QS. Yunus: 49).
Ketiga, waqt. Makna ini menunjukkan  batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan sesuatu. Keempat, ‘Ashr. Makna ini memberi kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja memeras  keringat dan pikiran.
Dari keempat makna waktu di atas, kita dapat menarik garis simpul, sesungguhnya waktu merupakan kumpulan butiran mutiara. Butiran mutiara ini, akan terasa manfaatnya jika kita memahami fungsi dan faedahnya. Tetapi, kondisi ini akan terjadi sebaliknya, bila mutiara yang Allah titipkan kepada kita hanya sebagai asesoris biasa.
Rekam Jejak
Berbeda dengan hiruk pikuk pergantian tahun Masehi. Pergantian tahun Hijriah terasa sepi. Baik, secara publikasi media (cetak dan elektronik) maupun sambutan dari pemilik tahun yaitu muslim. Kita tidak pernah peduli terhadap pergantian tahun Hijriah. Bahkan kehadirannya pun kerap terlupakan oleh berbagai kesibukan. Padahal kalender Hijriah bukan semata penanggalan biasa. Kelahirannya memiliki makna yang patut direnungi oleh segenap muslim.  Mengapa demikian?
Penetapan pergantian tahun Hijriah sarat dengan historis. Berikut catatan historis itu, awalnya para sahabat berdebat bagaimana cara menentukan awal tahun baru Islam. Ada yang berpendapat, sebaiknya dimulai dengan lahirnya Nabi Muhammad Saw., tapi, usulan ini ditolak lantaran dikhawatirkan akan menimbulkan kultus individu. Usulan berikutnya, dimulai dari wafatnya Nabi Muhammad Saw.
Lagi-lagi usulan ini ditolak, dengan alasan dikhawatirkan akan menimbulkan suasana duka cita dikalangan umat Islam.
Akhirnya, Umar bin Khatthab mengusulkan agar penentuan tahun baru Islam dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw
., dari Mekkah ke Madinah. Usulan ini ternyata disetujui para sahabat Rasulullah.
Ringkasnya, penetapan tahun baru Islam tidak dimulai dari kelahiran atau kematian Nabi. Bukan juga dari kemenangan umat Islam dalam peperangan. Tetapi, kalender Islam dimulai dari awal perubahan, yaitu hijrahnya Rasulullah. Dengan demikian, tahun baru Islam esensinya adalah mengingatkan umat Muslim setiap tahun tentang pengorbanan dan perubahan.
Perubahan merupakan bagian dari siklus kehidupan. Oleh karena itu, perubahan memiliki muatan tata nilai. Adapun tata nilai yang diajarkan Rasulullah dalam menyingkapi pergantian tahun. Pertama, selalu berlindung kepada Allah. Tidak dipungkiri, pergantian tahun kerap menjadi ladang hura-hura. Pesta. Dan sarana mengumbar syahwat. Karena itu, kita berlindung kepada Allah sebagaimana Alquran mengajarkan, “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Araf : 200).
Kedua, menghindari sikap lalai. Makna lalai menurut bahasa artinya, lengah, tidak menghindahkan kewajiban, lupa karena asyik melakukan sesuatu. Sebagai contoh, menjelang tahun baru Masehi biasanya banyak di antara kita yang terjebak oleh sikap lalai. Sikap itu tercermin ketika mengikuti irama pergantian tahun. Misalnya, ketika adzan Isya berkumandang, kita tidak lekas pergi salat ke mesjid, tetapi tetap asyik di depan TV karena acara yang disajikan mengenai tayangan suasana dipelbagai sudut kota menjelang tahun baru. Ini merupakan contoh perbuatan lalai. Padahal Allah berfirman, “...janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-Araf: 205).
Ketiga, pergantian tahun merupakan bingkai pelajaran. Setidaknya pergantian tahun harus menjadi cermin dalam menentukan langkah di masa yang akan datang. Hari ini kita berupaya lebih baik dari hari kemarin. Sebab kemarin sebuah kenangan, hari ini kenyataan dan esok baru impian. Karena itu, menata hari dengan memperbaiki diri merupakan bagian tak terpisahkan dari rotasi pergantian tahun. Sebagaimana Allah Swt., Berfirman,” “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS. Al Furqon: 62).
Pergantian tahun merupakan butiran mutiara. Karenanya, jangan biarkan mutiara milik kita tak bermakna. Allah Swt., sudah mengingatkan, betapa pentingnya menggunakan butiran mutiara sebagai bekal untuk hari esok,”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Catatan Akhir
Perjalanan tahun Hijriah dan Masehi sudah kita nikmati. Mari kita syukuri kehadirannya dengan segudang harap. Semoga tahun ini menjadi cikal bakal, dalam meningkatkan pendekatan diri pada  Illahi Robbi. Bukan sebaliknya, pergantian tahun membuat kita jauh dari hidayah-Nya. Apalagi jika pergantian tahun malah menjadi corong kemaksiatan. Nauzubillah!
Perjalanan tahun adalah milik kita. Maka, baik buruk perjalanan tahun tergantung pada sikap kita dalam menyiasatinya. Semoga kita termasuk orang yang tidak terpukau oleh ‘fatamorgana’ dan ‘senda guraunya’ perjalanan tahun. Wallahu’alam bis shawab **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar